Serabi Mawar, Resep Keluarga yang Bertahan Puluhan Tahun

Serabi Mawar tidak lahir dari strategi viral atau konsep bisnis besar. Brand ini tumbuh dari dapur keluarga dan resep tradisional yang dijaga lintas generasi, hingga akhirnya menjadi toko kue yang menemani banyak keluarga selama puluhan tahun.

Semua berawal dari kecintaan pada makanan tradisional. Resepnya dibuat dengan cara yang sama seperti dulu, awalnya hanya untuk keluarga dan orang terdekat. Namun rasa yang konsisten membawa serabi ini hadir di berbagai momen, dari meja makan keluarga, arisan, hingga acara kecil rumahan. Perlahan, Serabi Mawar dikenal dan dicari.

Seiring waktu, bisnis ini sempat berada di titik stagnan. Perubahan zaman mengubah cara orang membeli dan menikmati makanan. Tahun 2017 menjadi titik balik, ketika keputusan diambil untuk kembali fokus membangun Serabi Mawar bersama keluarga. Tujuannya bukan sekadar melanjutkan, tetapi memberi arah baru tanpa menghilangkan identitasnya.

Di Balik Serabi yang Hangat, Ada Sistem yang Harus Rapi

Di balik produk yang hangat, ada tantangan yang nyata. Harga bahan baku naik, selera pelanggan berubah, dan sistem kerja perlu dibenahi. Mengatur produksi dan alur kerja juga penting, supaya lebih rapi karena itu menjadi salah satu pekerjaan penting dalam mengembangkan sebuah bisnis. Di sini, tim yang solid dan loyal menjadi penopang, membuat proses berjalan lebih terarah.

Tekanan datang silih berganti. Pesanan menumpuk saat bahan baku sulit dicari, sementara pembukuan harus dipelajari dari nol. Lingkungan kerja yang kekeluargaan membantu setiap masalah terasa lebih ringan. Kebiasaan kecil seperti power nap 15 menit dan slow breathing jadi cara sederhana untuk menjaga energi tetap stabil.

Kepercayaan pelanggan dibangun dari konsistensi. Kualitas dijaga, pelayanan tidak berubah, dan inovasi dilakukan seperlunya. Itulah yang membuat Serabi Mawar tetap dipilih oleh keluarga lintas generasi.

Melalui ruang belajar dan kolaborasi bersama JGBB, serta dukungan dari Le Minerale, Serabi Mawar terus bergerak tanpa meninggalkan akarnya. Pesannya sederhana “bangun sistem sebelum terlalu sibuk berlari”, belajar dari kompetitor, dan jalani bisnis dengan hati. Karena dari sanalah rasa dan kepercayaan bertahan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top