Oleh Didiet Maulana

Foto oleh : Tim Dokumentasi JGBB
Setelah hampir dua tahun pandemi mengubah cara kita berinteraksi, rasanya begitu menyegarkan bisa kembali bertemu langsung dengan para entrepreneur muda di acara #JadiGiniBelajarBersama (#JGBB) 2022 kemarin. Venue di Jakarta yang dipenuhi energi positif dari ratusan peserta membuat saya teringat mengapa saya begitu passionate berbagi pengalaman membangun IKAT Indonesia.
Momen yang Tak Terlupakan
Yang paling berkesan bagi saya adalah ketika sesi diskusi tentang “Merajut Tradisi dengan Inovasi”. Saya melihat mata-mata berbinar dari para peserta, terutama ketika saya cerita bagaimana perjalanan saya dari lulusan arsitektur yang sempat meragukan kemampuan sendiri, hingga akhirnya menemukan passion sejati dalam mengangkat tenun tradisional Indonesia.
Saat itu, ada seorang peserta yang bertanya, “Mas Didiet, gimana caranya tetap konsisten dengan visi mempertahankan tradisi di tengah tekanan pasar yang menuntut hal-hal yang instan?”
Pertanyaan itu membuat saya terdiam sejenak. Karena sejujurnya, pertanyaan yang sama pernah berkali-kali hinggap di kepala saya, terutama di awal-awal membangun IKAT Indonesia 14 tahun lalu.
Belajar dari Kesederhanaan

Foto oleh : Tim Dokumentasi JGBB
Yang membuat saya terharu adalah antusiasme peserta saat saya membawa beberapa contoh kain tenun dari berbagai daerah. Mereka menyentuh setiap helai benang dengan penuh rasa ingin tahu.
Ada yang langsung terinspirasi untuk mengeksplorasi kekayaan lokal daerah mereka masing-masing.
“Ternyata kekuatan itu ada di kesederhanaan ya, Mas,” ujar salah satu peserta muda dari Bandung. “Sepotong kain tenun aja bisa jadi starting point untuk membangun brand yang sustainable.”
Komentar itu mengingatkan saya pada filosofi yang selalu saya pegang: bahwa inovasi terbaik seringkali lahir dari hal-hal yang sudah ada di sekitar kita, tinggal bagaimana kita melihatnya dengan sudut pandang yang berbeda.
Energi Kolaborasi
Salah satu highlight acara adalah sesi workshop singkat dimana peserta diajak untuk merancang konsep bisnis yang menggabungkan tradisi lokal dengan sentuhan kontemporer. Ruangan berubah menjadi laboratorium kreativitas. Suara diskusi, coretan di kertas, dan gelak tawa menjadi soundtrack yang sempurna.
Saya sempat berkeliling mengamati grup-grup kecil yang terbentuk secara natural. Ada yang merancang konsep kedai kopi dengan desain interior inspirasi batik, ada yang mengusulkan platform digital untuk menghubungkan pengrajin dengan designer muda. Kreativitas mereka benar-benar out of the box!
Yang paling membuat saya bangga adalah melihat bagaimana mereka tidak hanya berpikir tentang profit, tapi juga impact untuk komunitas lokal. Generasi muda ini benar-benar memahami konsep sustainable business dengan hati.
Pelajaran dari Para Peserta

Foto oleh : Tim Dokumentasi JGBB
Jujur, saya datang dengan mindset untuk berbagi, tapi ternyata saya juga banyak belajar dari mereka.
Terutama tentang penggunaan teknologi dan digital marketing yang lebih fresh. Beberapa peserta bahkan memberikan insights menarik tentang bagaimana cara mengemas storytelling brand di media sosial.
Ada seorang peserta yang mengatakan, “Mas Didiet, brand IKAT Indonesia itu storytelling-nya kuat banget. Setiap postingan Instagram kayak ngajak kita ikut journey-nya para penenun.”
Komentar itu membuat saya refleksi: bahwa di era digital ini, yang terpenting bukan hanya produk yang kita jual, tapi cerita di balik produk itu. Dan cerita yang paling powerful adalah yang otentik, yang datang dari hati.
Kolaborasi Masa Depan
Yang paling exciting dari acara ini adalah terjalinnya beberapa potensi kolaborasi. Ada peserta yang tertarik mengeksplorasi aplikasi motif tenun untuk produk lifestyle modern, ada juga yang ingin mengembangkan program pemberdayaan pengrajin di daerah mereka.
Saya berkomitmen untuk tetap terbuka dan supportive terhadap inisiatif-inisiatif segar ini. Karena pada akhirnya, sustainability itu bukan hanya soal environment, tapi juga tentang regenerasi passion dan knowledge.
Closing Thoughts

Foto oleh : Tim Dokumentasi JGBB
Pulang dari acara #JadiGiniBelajarBersama 2022, hati saya penuh dengan harapan. Melihat semangat dan visi para entrepreneur muda, saya yakin masa depan ekonomi kreatif Indonesia ada di tangan yang tepat.
Mereka tidak hanya punya skill dan knowledge, tapi juga empathy dan awareness tentang responsibility mereka terhadap komunitas dan lingkungan. Ini yang membedakan generasi entrepreneurship sekarang: mereka memahami bahwa success yang sesungguhnya adalah ketika kita bisa membawa dampak positif untuk orang lain.
Terima kasih untuk semua peserta #JGBB 2022 yang telah berbagi energi, inspirasi, dan passion. Mari kita terus #JadiGiniBelajarBersama, karena pembelajaran sejati itu tidak pernah berhenti.
Dan ingat, seperti yang selalu saya katakan: “Inovasi terbaik lahir ketika kita berani merangkul tradisi dengan pandangan masa depan.”
Sampai jumpa di kesempatan berbagi berikutnya!
Didiet Maulana adalah Creative Director dan Founder IKAT Indonesia, brand fashion yang mengangkat tenun tradisional Indonesia dengan sentuhan kontemporer. Lulusan arsitektur ini telah mendedikasikan 14 tahun hidupnya untuk memberdayakan para penenun tradisional dan memperkenalkan kekayaan tekstil Nusantara ke kancah internasional.