
Witrove adalah brand kerajinan berbasis alam yang dirintis Bu Wiwit sejak 2007. Brand ini lahir dari kepedulian terhadap melimpahnya eceng gondok sekaligus kondisi petani yang belum mendapatkan upah layak. Melalui Witrove, Bu Wiwit mengolah bahan alam menjadi produk bernilai sekaligus membuka peluang penghidupan bagi para pemasoknya.
Alam Menyediakan Bahan, Proses Menjadi Nilai Berharga
Awalnya, Bu Wiwit membangun usahanya lewat Wiwit Collection dengan produk rajut dan sulam. Pada 2012, brand tersebut berevolusi menjadi Witrove, yang dimaknai sebagai koleksi Wiwit yang bernilai. Seiring waktu, bahan baku diperluas, dari eceng gondok hingga pelepah pisang, serabut kelapa, dan serabut jagung. Pada 2022, Witrove mengusung tagline “Gift from Nature” untuk menegaskan identitas produk semua dari bahan alam.

Proses produksi Witrove mengandalkan standar bahan yang ketat. Eceng gondok dipilih pada usia dan ukuran tertentu, dicuci, dijemur dengan sinar matahari hingga kering, lalu diasapi untuk menjaga kualitas dan sterilitas. Produksi bahkan dihentikan saat musim hujan karena perubahan tekstur dan warna bahan.

Menjaga Arah Di Tengah Pasar yang Terus Bergerak
Tantangan utama Witrove ada pada pemasaran. Produk anyaman kerap dibandingkan dengan tas pabrikan, sementara kualitas dan finishing ramah lingkungan belum selalu dipahami pasar. Sehingga terkadang terjadi kesalahpahaman dari sisi harga. Produksi dikerjakan secara fleksibel oleh perajin lepas dengan keahlian khusus, menyesuaikan kapasitas pesanan.
Melalui pendampingan JGBB, Bu Wiwit mulai menampilkan proses produksi di media sosial untuk mengedukasi pasar. Dari proses jatuh bangun, ia memegang dua prinsip utama, keyakinan dan konsistensi, serta memilih tidak terbawa arus tren sesaat. Bergabung dengan JGBB bersama Le Minerale memberi penguatan mental, arah baru, dan ruang belajar yang relevan bagi perjalanan Witrove.